petugas fast boat bali gili

Dahulu kala, hidup seorang cantik jelita bernam mandalika
Yang berasal dari salah satu kerajaan kecil dengan nama tonjeng beru.
Mandalika dikenal sebagai putri yang cantik, pintar dan baik hati.

Saking terkenalnya, seluruh raja di pulau lombok menginginkan mandalika sebagai permaisuri maupun menantunya.

Berdatanganlah raja raja dari ujung utara hingga selatan pulau Lombok. untuk melamar sang putri yang cantik jelita.

Satu persatu diterima oleh mandalika , setiap raja dan pengaran yang dapat semuanya mendapatkan perlakukan yang sama perlakukan yang baik dan senyum yang indah dari sang putri mandalika.

Dibalik semua kebaikan sikapnya, sebenarnya mandalika belum mendapatkan jawaban yang pasti sehingga terus memberikan jawaban yang sama

Datanglah kembali pada bulan ke 20 bulan ke 10

Hari yang dinantikanpun datang, tanggal 20 bulan ke 10 penaggalan sasak, semua raja disuruh datang ke tempat yang telah ditentukan oleh sang putri yang canti jelita

Dengan apa yang akan terjadi hingga ahirnya mandalika sang putri cantik jelita datang dan bertemu para raja dan para pengiringnya.

Mandalika berkata ” saya mencintai kalian semua, saya tidak ingin mengorbankan salah satu diantaranya, maka biarkanlah saya putri mandalika menjadi milik masyarakat dan bangsa ini”

Kemudian dia berlari menceburkan diri ke laut, sehingga semua yang hadir di sana mengejarnya namun semua mereka tidak berhasil ketemu.

mereka justu menemunya nyale nyale yang berarti bercahaya.sebuah binantang laut yang berbentuk seperti cacing, lagenda menceritakan bahwa badan putri mandalika berubah menjadi nyale nyale dan ruhnya menjelma menjadi bintang ruh.

Sebenarnya nyale bukanlah acara pariwisata semata, tetapi menjadi salah satu literisasi kebudayaan suku sasak yang ada di pulau lombok ini. Bahkan dari cerita yang diangkat dapat ditangkap bahwa suku sasak pada saat itu sudah mengenal sistem penaggalan berdasarkan peredaran bulan hal itu menandakan bahwa suku sasak memiliki peradaban yang tinggi karna sudah memahami ruang dan waktu.

Tak hanya pospologi, lagenda bau nyale juga lekat dengan aspek sosialogin, antropologi bahkan religius.

Meski terjadi di pantai, bau nyale bukan haya terkait dengan aktivitas bahari tetapi juga tradisi agraris ini karna sebgian besar masyarakat mengkaitkan bau nyale dengan hasil panen mereka, sehingga banyak nyale berarti hasil panen akan berlimpah.

Praktisnya ada juga nyale dijadikan sebagai bahan pertanian seperti dijadikan pupuk, bungkus nyale atau lepek dibakar untuk mengusir hama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_ID